Ambang Batas Konservasi, Antara Pemanfaatan dan Preservasi *)
Sukardi,S.Hut
Peran Manusia dalam Perubahan Ekosistem Hutan
Pemanfaatan hutan oleh manusia tidak terlepas dari keberadaannya sebagai bagian dari ekosistem hutan itu sendiri. Manusia butuh kelangsungan hidup sementara hutan menyediakan kebutuhan tersebut. Hubungan ketergantungan dengan sendirinya muncul ketika kebutuhan primer manusia seperti bahan makanan, air, bahan papan untuk bangunan rumah dan sebagainya diambil dari dalam hutan. Pada awalnya, kebutuhan tersebut tercukupi bahkan berlebih, sementara hutan dan segala isinya hampir statis dalam kedinamisannya.
Pertumbuhan jumlah manusia sekitar hutan semakin pesat seiring dengan kemampuannya memanfaatkan segala potensi dalam diri berupa akal dan pikiran. Bertambahan kuantitas secara otomatis kebutuhan hidup pun bertambah. Sementara hutan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan cenderung statis. Manusia pun mulai hidup secara berkelompok dan menetap di sekitar tempat terakhir mereka bermukim. Lahan-lahan sekitar hutan dijadikan pemukiman semetara lahan kosong lainnya dimanfaatkan dengan membudidayakan tanaman-tanaman yang cepat menghasilkan dan tetap menjadikan hutan sebagai sumber plasma nutfah. Hal tentu membuat kondisi hutan tetap terjaga.
Namun demikian, perubahan secara signifikan tetap terjadi pada hutan-hutan tersebut ketika manusia yang terbentuk dalam kelompok masyarakat mulai berinteraksi dengan komunitas masyarakat lainnya. Pemenuhan kebutuhan juga mulai bervariasi, bukan hanya untuk makan dan minum serta tempat tinggal saja tapi kebutuhan barang sekunder lainnya mulai mewarnai aktivitas mereka. Aksesibibilitas berupa jalan semakin memudahkan masyarakat dalam berinteraksi dimana berbagai informasi dan teknologi masuk begitu pun berbagai pihak lain yang ingin turut serta memanfaatkan sumber daya alam dalam hutan.
Orientasi pemanfaatan hutan mulai bergeser ke paradigma pemenuhan kebutuhan industri yang dapat memproduksi kayu di hutan dalam jumlah besar. Kondisi ini terus berlanjut berakibat pada pengurasan isi hutan sampai daya dukung hutan terhadap ekosistemnya semakin menurun. Pada akhirnya berbagai persoalan pun muncul, bencana akibat rusaknya ekosistem hutan semakin sering terjadi dan apabila dibiarkan terus maka akan menjadi sumber malapetaka bagi bumi ini.
Konservasi Sebagai Alternatif Pemecahan Masalah ?
Sistem pengelolaan hutan sebenarnya telah mengenal nilai-nilai konservasi sejak dulu. Hal ini bisa dilihat dari beberapa kearifan lokal dari masyarakat tradisional dalam memanfaatkan hasil hutan sementara kondisi hutan tetap terjaga. Bahkan sistem pengelolaaan konvensional yang diterapkan selama ini adalah pengejawantahan dari dari nilai-nilai konservasi yang disalah artikan sehingga melenceng jauh dari nilai konservasi itu sendiri.
Nilai konservasi tersebut adalah pandangan tentang hutan bisa beregenerasi sendiri sebagaimana mahluk hidup pada umumnya, hutan yang didominasi oleh tanaman dan satwa di dalamnya akan berakhir pada masa tertentu. Tanaman akan mati dan lapuk dengan serndirinya. Hal ini mendorong manusia untuk memanfaatkan pohon-pohon yang umurnya sudah tua dengan harapan pohon-pohon muda akan menggantikan pohon tua tersebut, dan siklus ini akan berjalan sebagaiman mestinya.
Berdasarkan pandangan ini, muncul sistem tebang pilih dengan konsep pohon ditebang berdasarkan tingkat kematangan tertentu dan menyisakan pohon-pohon muda untuk regenerasi. Kemudian penebangan yang dilakukan terhadap pohon-pohon tersebut lebih disempurnakan oleh campur tangan manusia dalam proses regenerasi melalui penanaman pada lokasi penebangan. Tapi kenyataannya sistem ini tidak efektif sama sekali malah memperpanjang dan memperparah kerusakan hutan karena sifatnya kadang tidak sesuai dan sulit dilakasanakan di lapangan.
Menyadari kerusakan hutan yang semakin tidak terkendali ini, mengharuskan masyarakat maupun pemerintah sebagai penentu kebijakan perlu memikirkan kembali untuk meneruskan pengelolaan hutan. Hal ini pula yang mengawali munculnya preservasi bagi hutan –hutan yang tersisa. Pandangan ini sebagai bentuk kekhawatiran sebagian mendalam masyarakat akan keselamatan hutan di masa datang. Namun demikian preservasi dianggap belum cukup memadai karena dianggap terlalu utopis dan statis sementara hutan sendiri bersifat dinamis. Oleh karena itu konservasi dianggap lebih mewakili model pengelolaan hutan saat ini.
Masalahnya, apakah sistem konservasi bisa mempertahankan hutan yang semakin sedikit sementara tekanan penduduk sekitar hutan dalam mendapatkan llahan semakin tinggi, belum lagi berbagai persoalan sosial ekonomi lainnya. Apakah tidak sebaiknya hutan yang tesisa dipreservasi saja, karena meskipun secara biologis hutan dapat beregenerasi kembali butuh waktu lama untuk mengembalikan ke kondisi semula, itupun kalau berhasil. Kalaupun sistem konservasi yang diterapkan paling tidak konservasi sebaiknya lebih diarahkan ke preservasi bukan cenderung pada pemanfaatan. Jadi konservasi yang perlu dibatasi dengan jelas, jangan sampai ambang tersebut terlewati.
*) Dimuat dalam Majalah Beo Nias BKSDA Sumut II Maret-Juni 2006
Tidak ada komentar:
Posting Komentar